Ilan…
Jika
terbersit saja niat untuk menyakiti suamimu, coba renungkan hal ini sejenak.
***
Pernahkah
suamimu menyakitimu?
Pernahkah
dia mempunyai kesalahan yang sangat tidak termaafkan?
Mungkin
ada beberapa kesalahan, tapi apakah kesabarannya yang sangat luar biasa itu
terkalahkan oleh kesalahan-kesalahan kecilnya? Kesalahan yang hanya menunjukkan
bahwa ia pun manusia biasa yang pernah khilaf.
Pernahkah
suamimu berkata atau berbuat kasar yang menyakiti hatimu?
Pernahkah
suamimu meninggikan suaranya ketika berbicara denganmu?
Pernahkah suamimu mengeluh ketika ia sedang
sakit?
Pernahkah suamimu membicarakan kekuaranganmu?
Pernahkah suamimu marah ketika kamu lalai
melayaninya?
Pernahkah suamimu menuntut atau meminta sesuatu
selain ingin kau selalu istiqomah menjadi wanita yang sholehah?
Pernahkah suamimu marah, ilan?
Pernahkah ia mendzalimu, ilan?
Pernahkah ada perkataan yang menyakitimu ketika
kau marah dan menyalahkan segala kesalahannya?
Pernahkah ia menjadi lelaki yang mengecewakanmu
sedemikian dalam?
***
Kau pun tahu bahwa semua jawaban untuk
pertanyaan-pertanyaan itu adalah TIDAK, ilan.
***
Dan akhirnya kau pun menyadari, mengapa kau memilihnya
untuk menjadi pendamping hidupmu. Karena Allah yang memilihkannya, ilan.
Lelaki terbaik itu adalah A. Hendrayana. Lelaki
yang selama 27 bulan ini menjadi suamimu. Lelaki sholeh yang selalu berusaha
membahagiakanmu dengan caranya. Love him just the way he is, ilan…
***